By Reni Rosiala Wardani
Jam pelajaran
Mrs.Scott sudah berakhir 10 menit yang lalu, tapi dia masih saja sibuk
menjelaskan Teori Atom Dalton. dan dengan wajah yang seolah-olah menggambarkan
bahwa kami sangat beruntung mendapatkan waktu tambahan, ia mengakhiri
pelajarannya dan keluar kelas. Kelas mulai berisik ketika Zac melemparkan
segumpal kertas lecek, hal yang sama juga ia lakukan pada Brian. Itu adalah
pesan singkat.
“temui aku di belakang sekolah—pulang
sekolah”
Seperti
dugaanku, kami bertemu di belakang sekolah hanya untuk menyusun rencana liburan
nanti. Kami bertiga; aku, Zac dan Brian memiliki kesamaan dalam berbagai hal.
Sejak kami masuk Catelyn Junior Hight School hampir setiap waktu luang kami
habiskan bersama. Musik, tantangan dan minat yang sama tanpa sadar telah
mengikat tali persaudaraan kita. Walaupun kami mempunyai hobi yang sangat
berbeda.
“liburan kali ini, aku mau sesuatu yang
berbeda, menantang dan belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Semua pelajaran
yang membosankan ini membuatku ingin berteriak!” Kata Zac
“ke tempat yang tidak terlalu ramai, pusing kepalaku jika terlalu lama
dikeramain!”
“oh, ayolah Syn.. sampai kapan kau
terus-menerus menyendiri? Kau bahkan tidak melirik seorang gadis pun! Mereka
memujamu,sob. Histeris melihatmu bermain drum seperti orang kesetanan!”
“diamlah,Brian. Aku tidak peduli. Yang
kubutuhkan hanya kesunyian untuk lagu baruku.”
“itu kan kau! Kau tahu? Aku ingin mengambil
beberapa foto liburan ini. Sudah lama kameraku teronggok tak terpakai di sudut
lemari”
“jadi, kemana tujuan kita nih? Tempat yang
berbeda, belum pernah kita datangi, menantang, sunyi dan cocok untuk
fotografi?” kata ku dengan tak sabar.
“kau pikir ada tempat yang seperti itu,
huh?” sela Brian
“aku pikir ada. Ku dengar bagian timur
Catelyn Falls terdapat sebuah tempat yang cukup tenang dan indah. Dan tantangan
yang bias kita dapat adalah menjelajah hutan itu, kawan.”
“aha, jadi kita bisa berkemah disana!” kata
Brian
“dan mencari ketenangan untuk membuat lagu
baruku!” seruku dengan semangat
“dan tentu saja untuk menaklukan hutan
Catelyn Falls!” Zac ikut bicara lebih antusias.
***
Sudah
seminggu ini kami selalu membicarakan rencana kemping di hutan Catelyn Falls.
Nah, kemarin malam akhirnya kami melakukannya.
Kesalahan besar!
Saat itu langit sangat
cerah ketika kami menulusuri jalan setapak
masuk hutan. Burung-burung sangat ramai, brian tertinggal jauh
dibelakang karena sibuk memotret suasana pagi yang riang itu. Aku dan zac tidak
menghiraukannya sampai sebuah ide gila muncul di benak zac. Ia memanggil brian
dan entah iblis mana yang membisikinya, namun ia sangat ingin untuk merubah
rencana kemping kita ke tempat baru dan menantang menurutnya. Ia berdalih telah
mengetahui seluk-beluk hutan ini. Aku tahu ini adalah ide buruk bagi seorang
pemula seperti kami untuk berkemah. Dan tentu saja rasa ingin tahu dan
kenekatanku mengalahkan semua pertimbangan logika akan bahaya yang muncul,
sedangkan brian tidak peduli akan tujuan kita. Maka jadilah kami semakin
memasuki hutan Catekyn Falls, meninggalkan jalan setapak yang menjanjikan
keamanan.
Kami akhirnya
sendirian di hutan, semak-semak semakin tinggi, pepohonan tak lagi terlihat
bersahabat, melainkan seperti mata iblis yang mengintai kami dibalik
ranting-rantingnya yang besar. Suara teriakan membuatku terlonjak. Seekor
burung yang bertengger di cabang yang rendah. Burung itu berteriak lagi,
mengamati kami. Kemudian kami menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan
tenda karena dekat dengan sungai yang jernih.
Saat sedang
membuka gulungan tenda, saat itulah aku merasakannya pertama kali—perasaan ada
yang mengawasi kami. Aku merasa bulu kudukku berdiri. Aku mendengar suara-suara
patah di belakang kami, seperti seseorang menginjak ranting-ranting kering. Aku
berbalik. Tapi aku tak melihat siapa pun. Pepohonan condong ke arah satu sama
lain, seolah ingin mengepung kami. Namun aku tak menghiraukannya.
Sepanjang sore
kami menikmati suasana hutan yang liar. Brian sibuk dengan kameranya, zac pergi
mencari kayu bakar dan aku sibuk memancing dan melamun sepuasnya dalam
ketenangan yang nyaman. Hingga malam pun tiba.
Malam itu sangat gelap walaupun di langit terlihat purnama penuh, udara
dingin seakan mengabarkan bahwa kabut akan segera turun. Sialnya zac kembali
tanpa membawa kayu bakar. Semua kayu basah karena hujan kemarin, meski seharian
cerah; hutan yang terlalu lebat menghalangi sinar matahari menyentuh tanah. Jadilah
kami hanya berdiam di dalam tenda setalah makan malam. Sebelum masuk tenda, aku
merasakan perasaan aneh itu lagi. Bulu kudukku berdiri. Siapakah yang mengawasi
kami? Aku memicingkan mataku ke kegelapan. Napasku tercekat saat kulihat
lingkaran abu-abu pudar—beberapa pasang lingkaran.
Mata?
Kami tak bias tidur, hanya mengobrol dan
bercanda. Udara semakin dingin dan kabut pun mengerubungi tenda kami. kami
sedang tertawa ketika suara itu terdengar. Awalnya seperti geraman di kejauhan
lalu muncullah lolongan yang bersaut-sautan, seperti srigala. Namun suara itu
semakin dekat dan semakin keras. Suasana semakin tegang ketika raungan
terdengar mengerikan membelah malam yang kelam. Kami mulai ketakutan dan tak
tahu harus berbuat apa.
Hening.
“oh tuhan, apa
yang terjadi di luar sana?”
“apapun itu, aku
harap itu sudah berakhir. Sudahlah tidak usah takut” kataku menenangkan yang
lain. Baru saja mulutku tertutup, terdengar derakan langkah kaki diluar. Begitu
dekat… begitu dekatnya sampai kami bisa mendengar suara napas parau dan rendah.
Mereka disini!
Mahluk-mahkluk yang melolong itu! Kami semakin
merapatkan diri. Dan… Pintu tenda tersingkap. Kedua temanku dan aku menjerit.
Seorang pria
membungkuk untuk mengintip ke tenda kami. Walaupun di tenda hanya ada lampu
kecil kami bisa melihat tubuhnya tinggi dan berotot. Matanya bersinar terang
seperti bukan mata manusia! Mata hewan?
alisnya sangat tebal. Mulutnya kering, seperti orang yang kehausan.
“kalian
baik-baik saja, anak-anak?” katanya dan aku bersumpah melihat gigi taring di
mulutnya.
“si-siapa kau?” tanyaku
“pemburu hewan.
Hutan ini benar-benar tidak aman. Begitu pagi dating kalian sebaiknya
pergi.jalan setapaknya kea rah sana” ia menunjuk.
Kami berjanji
akan melakukanya. Kami berterima kasih pada mereka karena menengok kami. Dan
begitu mereka pergi, lolongan itu terdengar lagi. Lolongan disekitar kami. Kami
tidak bisa tidur sama sekali malam itu.
Pagi berikutnya,
begitu sinar matahari mulai menembus pepohonan, kami bangkit. Kami terburu-buru
keluar tenda dan mulai membereskan barang-barang. Aku mulai melipat tenda, tapi
berhenti saat melihat sesuatu yang aneh di tanah.
“hei…!” aku
memanggil zac dan brian. “lihat!”
Aku menunjuk
jejak-jejak di tanah. dua pasang jejak bergerak dari hutan ke depan tenda kami.
Jejak si pemburu hewan itu. Kami bertiga memandanginya dangan rasa takut da
terheran-heran. Jejak itu bukan jejak manusia. Itu jejak tapak binatang. Dan
ukuranya dua kali lebih besar ukuran normal.
Tapak binatang
di tanah.
Jejak srigala!
THE
END


0 komentar:
Posting Komentar